Wudhu Ringan

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertolak meninggalkan ‘Arafah hingga setelah sampai di lembah (jalan di sisi gunung) beliau turun buang air kecil, kemudian beliau berwudlu namun dengan wudlu’ yang ringan. Aku lalu bertanya, “Apakah akan shalat wahai Rasulullah? ‘ beliau menjawab: “Shalat masih ada di depanmu.” Beliau lalu mengendarai tunggangannya hingga sampai di Muzdalifaah beliau turun dan wudlu’ secara sempurna, kemudian iqamah dikumandangkan, dan beliau pun melaksanakan shalat Maghrib. Kemudian orang-orang menambatkan unta-unta mereka pada tempatnya, lalu iqamat isya` dikumandangkan, beliau lalu mengerjakan shalat isya` tanpa mengerjakan shalat yang lain di antara keduanya.”
(HR. Bukhari: 136)

Kebodohan Dan Fitnah Tersebar

“Ilmu akan diangkat dan akan tersebar kebodohan dan fitnah merajalela serta banyak timbul kekacauan”. Ditanyakan kepada Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam: “Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan kekacauan?” Maka Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Begini”. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberi isyarat dengan tangannya lalu memiringkannya. Seakan yang dimaksudnya adalah pembunuhan.
(HR. Bukhari: 83)

Sholat Gerhana Matahari

“Apa yang sedang dilakukan orang-orang?” Aisyah memberi isyarat ke langit. Ternyata orang-orang sedang melaksanakan shalat (gerhana matahari). Maka Aisyah berkata: “Maha suci Allah”. Aku tanyakan lagi: “Satu tanda saja?” Lalu dia memberi isyarat dengan kepalanya, maksudnya mengangguk tanda mengiyakan. Maka akupun ikut shalat namun timbul perasaan yang membingungkanku, hingga aku siram kepalaku dengan air. Dalam khutbahnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memuji Allah dan mensucikan-Nya, lalu bersabda: “Tidak ada sesuatu yang belum diperlihatkan kepadaku, kecuali aku sudah melihatnya dari tempatku ini hingga surga dan neraka, lalu diwahyukan kepadaku: bahwa kalian akan terkena fitnah dalam kubur kalian seperti -atau hampir berupa- fitnah -yang aku sendiri tidak tahu apa yang diucapkan Asma’ diantaranya adalah fitnah Al Masihud dajjal-; “akan ditanyakan kepada seseorang (didalam kuburnya); “Apa yang kamu ketahui tentang laki-laki ini?” Adapun orang beriman atau orang yang yakin, -Asma’ kurang pasti mana yang dimaksud diantara keduanya- akan menjawab: ‘Dia adalah Muhammad Rasulullah telah datang kepada kami membawa penjelasan dan petunjuk. Maka kami sambut dan kami ikuti. Dia adalah Muhammad, ‘ diucapkannya tiga kali. Maka kepada orang itu dikatakan: ‘Tidurlah dengan tenang, sungguh kami telah mengetahui bahwa kamu adalah orang yang yakin’. Adapun orang Munafiq atau orang yang ragu, -Asma’ kurang pasti mana yang dimaksud diantara keduanya-, akan menjawab; “aku tidak tahu siapa dia, aku mendengar manusia membicarakan sesuatu maka akupun mengatakannya”.
(HR. Bukhari: 84)

Jagalah Dirimu

“Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk.” (QS Al Maidah ayat 105). Dan sesungguhnya kami mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “sesungguhnya jika manusia melihat kemungkaran kemudian mereka tidak mengingkarinya, maka hampir saja Allah akan menimpakan siksa kepada mereka semua.”
(HR. Ahmad: 1)

Hukuman Rajam Pezina

“Pada suatu hari, seorang laki-laki bertubuh pendek dihadapkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dia terlihat kusut, dekil dan mengenakan kain sarung, Dia mengaku bahwa dirinya telah berzina, pada awalnya beliau menolak pengakuannya sampai dua kali.
Setelah itu, barulah beliau memerintahkan para sahabatnya untuk merajamnya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ketika kami akan berangkat perang untuk berjihad di jalan Allah, ternyata salah seorang dari kalian ada yang tidak ikut berangkat bersama kami, dia mempunyai desahan seperti desahan hewan dan memberikan sesuatu kepada salah seorang para wanita tersebut.
Sekiranya Allah memberikan kesempatan kepadaku untuk berbuat sesuatu kepadanya, niscaya aku akan memberikan hukuman kepadanya sebagai pelajaran -atau akan aku kasih pelajaran-.” Perawi berkata, “Kemudian hal ini aku ceritakan kepada Sa’id bin Jubair maka dia berkata, “Beliau menolaknya sampai empat kali.”
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Syababah. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami Abu ‘Amir Al ‘Aqdi keduanya dari Syu’bah dari Simak dari Jabir bin Samurah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seperti hadits Ibnu Ja’far.
Syababah juga sepakat mengenai perkataannya, “Maka beliau menolaknya sampai dua kali.” Sedangkan dalam hadits Abu ‘Amir disebutkan, “Maka beliau menolaknya dua kali atau tiga kali.”
– HR. Muslim

Sunnah Yang Benar Dan Dusta

Telah menceritakan kepada kami Abu Kamil Fudlail bin Husain Al Jahdari Telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid bin Ziyad Telah menceritakan kepada kami Al Jurairi dari Abu Thufail ia berkata; Aku pernah bertanya kepada Ibnu Abbas, “Tahukah Anda tentang berlari-lari kecil sebanyak tiga kali putaran di Baitullah dan berjalan empat kali putaran, apakah hal tersebut merupakan ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam? sebab, kaum Anda menganggap bahwa hal tersebut adalah ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam?.” Ibnu Abbas menjawab, 
“Mereka benar, namun mereka juga telah berdusta.” Aku bertanya, “Apa maksud ungkapanmu, bahwa mereka benar, namun dusta?” Ibnu Abbas menjawab, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah datang ke Makkah, lalu orang-orang Musyrik mengatakan bahwa Muhammad dan para sahabatnya tidak mampu thawaf di Baitullah karena lemah. Orang-orang musyrik itu dengki kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Ibnu Abbas melanjutkan; “Karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan para sahabat agar berlari-lari kecil tiga kali putaran dan empat kali putaran berjalan biasa.” Aku bertanya lagi kepada Ibnu Abbas, “Beritahukanlah aku tentang Sa’i antara Shafa dan Marwa dengan berkendaraan. Apakah hal tersebut juga termasuk ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam? Sebab, kaummu menganggap bahwa hal tersebut juga termasuk sunnah?.” Ibnu Abbas menjawab, “Mereka benar, tapi mereka dusta.” Aku bertanya, “Apa maksudmu?” Ibnu Abbas menjawab, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah dikerumuni orang banyak, mereka mengatakan inilah Nabi Muhammad, inilah Nabi Muhammad, sehingga perempuan-perempuan keluar rumah.” Ibnu Abbas melanjutkan, “Pada awal mula beliau lakukan (sa’i), tidak banyak orang-orang dihadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdatangan, hingga ketika jumlah manusia semakin banyak, maka beliau melakukan sa’i dengan naik kendaraan, namun melakukan sa’i dengan berjalan kaki dan berlari-lari kecil adalah lebih utama.” Dan Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Al Jurairi dengan isnad ini, semisalnya, hanya saja ia menyebutkan; “Penduduk Makkah adalah suatu kaum yang pedengki (Qaumu Hasadin).” Dan ia tidak menyebutkan; “Yahsudun (terus menerus mereka dengki).”
– HR. Muslim