Waspada Bidah

Sejatinya kita perlu mempelajari mana yang termasuk Bid’ah dan mana yang termasuk perkembangan zaman. Supaya tidak salah dalam melakukan perbandingan mana yang Bid’ah dan mana yang bukan.
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam a bersabda: “Barangsiapa membuat-buat suatu perkara yang tidak ada dalam agama kami, maka akan tertolak.”
(HR. Abu Daud)

Hak Pada Diri Sendiri Dan Keluarga

Hak Pada Diri Sendiri Dan Keluarga
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Sufyan bin Uyainah dari Amru dari Abul Abbas dari Abdullah bin Amru radliallahu ‘anhuma, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadaku, “Bukankah telah dikabarkan kepadaku, bahwa kamu shalat sepanjang malam dan berpuasa sepanjang hari?” saya menjawab, “Sungguh, saya benar-benar telah melakukan hal itu.” beliau bersabda: “Sungguh, jika kamu melakukan hal itu, maka kedua matamu akan binasa. Kedua matamu mempunyai hak atas dirimu, dan keluargamu juga mempunyai hak atas dirimu. Karena itu, hendaklah kamu bangun (shalat lail) dan tidurlah. Kemudian berpuasalah kamu dan juga berbukalah.”
HR. Muslim

Sholat Berjamaah Adalah Sunnah Para Nabi

— Sholat Jamaah Adalah Sunnah Para Nabi —
“Siapa berkehendak menjumpai Allah besok sebagai seorang muslim, hendaklah ia jaga semua shalat yang ada, dimanapun ia mendengar panggilan shalat itu, sesungguhnya Allah telah mensyare’atkan kepada nabi kalian sunnah-sunnah petunjuk, dan sesungguhnya semua shalat, diantara sunnah-sunnah petunjuk itu, kalau kalian shalat di rumah kalian sebagaimana seseorang yang tidak hadir di masjid, atau rumahnya, berarti telah kalian tinggalkan sunnah nabi kalian, sekiranya kalian tinggalkan sunnah nabi kalian, sungguh kalian akan sesat, tidaklah seseorang bersuci dengan baik, kemudian ia menuju salah satu masjid yang ada, melainkan Allah menulis kebaikan baginya dari setiap langkah kakinya, dan dengannya Allah mngngkat derajatnya, dan menghapus kesalahan karenanya, menurut pendapat kami, tidaklah seseorang ketinggalan dari shalat, melainkan dia seorang munafik yang jelas kemunafikannya (munafik tulen), sungguh dahulu seseorang dari kami harus dipapah diantara dua orang hingga diberdirikan si shaff (barisan) shalat yang ada.”
(HR. Muslim)

Orang Asing Yang Beruntung Pada Hari Kiamat

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Pada hari kiamat nanti akan datang suatu kaum kepada Allah, cahaya mereka seperti cahaya matahari.”
Maka Abu Bakar berkata: “Apakah mereka itu kami wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Bukan, bagi kalian ada banyak kebaikkan, mereka adalah orang-orang miskin dan orang-orang yang berhijrah, mereka dikumpulkan dari penjuru dunia.”
kemudian beliau berkata; “keberuntungan bagi orang-orang yang terasing, keberuntungan bagi orang-orang yang terasing, keberuntungan bagi orang-orang yang terasing.” Ditanya; “Siapakah orang-orang yang terasing itu wahai Rasulullah?”
Beliau bersabda: “Mereka adalah orang-orang shalih hidup di tengah-tengah orang-orang buruk yang banyak, orang-orang yang menentangnya lebih banyak daripada orang-orang yang mentaatinya.”
(HR. Ahmad)

Tugas Kita Hanya Memberi Nasehat

وَلَا يَنْفَعُكُمْ نُصْحِيْۤ اِنْ  اَرَدْتُّ اَنْ اَنْصَحَ لَكُمْ اِنْ كَانَ اللّٰهُ يُرِيْدُ اَنْ يُّغْوِيَكُمْ ۗ  هُوَ رَبُّكُمْ ۗ   وَاِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ ۗ
Dan nasihatku tidak akan bermanfaat bagimu sekalipun aku ingin memberi nasihat kepadamu, kalau Allah hendak menyesatkan kamu. Dia adalah Tuhanmu, dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.”
(QS. Hud: Ayat 34)

Thawaf Di Baitullah

Telah menceritakan kepada kami Al ‘Abbas bin ‘Utsman Ad Dimasyqi; telah menceritakan kepada kami Al Walid bin Muslim dari Malik bin Anas dari Ja’far bin Muhammad dari Ayahnya dari Jabir radliallahu ‘anhu, ia berkata; “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selesai melaksanakan Thawaf di Baitullah, maka beliau mendatangi Maqam Ibrahim. Kemudian ‘Umar radliallahu ‘anhu bertanya; ‘Wahai Rasulullah, apakah ini maqam bapak kita (Ibrahim ‘Alaihis Salam) yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah sebutkan dalam firman-Nya: ‘Dan jadikanlah sebagian dari Maqam Ibrahim sebagai tempat shalat.’ (Qs. Al Baqarah 2:125)” Al Walid berkata; ‘Aku bertanya kepada Malik; ‘Beginikah Umar membacanya; ‘Dan jadikanlah sebagian dari Maqam Ibrahim sebagai tempat Shalat? ‘ Malik menjawab; ‘Ya.’
HR. Ibnu Majah

Menjamak Sholat

Dan telah menceritakan kepadaku Abu Rabi’ Az Zahrani telah menceritakan kepada kami Hammad dari Zubair bin Khirrit dari Abdullah bin Syaqiq katanya; Suatu hari Ibnu Abbas pernah berpidato di hadapan kami, yaitu setelah ashar hingga matahari terbenam dan bintang-bintang mulai bermunculan, maka orang-orang berseru; “Shalat, shalat!” Tidak lama kemudian seorang laki-laki bani Tamim, seorang yang tak pernah loyo dan juga tak pernah malas datang; “Shalat, shalat.” Ibnu Abbas berkata; “Apakah engkau hendak mengajariku sunnah, celaka kamu! Selanjutnya dia berkata; “Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjamak antara Zhuhur dan Ashar, Maghrib dan Isya’.” Abdullah bin Syaqiq berkata; Maka dalam hatiku ada sesuatu yang mengganjal, sehingga aku menemui Abu Hurairah dan kutanyakan masalah ini kepadanya, ternyata ia membenarkan ucapan Ibnu Abbas.
HR. Muslim

Sholatnya Rasulullah

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Abdurrahman ad-Darimi telah mengabarkan kepada kami Ubaidullah bin Musa dari Israil dari Manshur dari Ibrahim dari Alqamah dan al-Aswad bahwa keduanya datang kepada Abdullah. Lalu dia bertanya, “Sudah shalatkah orang yang di belakangmu?” Kami menjawab, “Sudah.” Lalu dia berdiri shalat di antara kami berdua. Dia meletakkan salah seorang dari keduanya di sebelah kanannya dan yang lainnya di sebelah kiri. Kemudian kami rukuk, lalu kami meletakkan tangan di lutut kami, tetapi dia memukul tangan kami. Dia mempertemukan kedua tapak tangannya, lalu meletakkan keduanya di antara kedua pahanya. Setelah selesai shalat dia berkata, “Beginilah yang dilakukan Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam.”
HR. Muslim